Education
 

Seni Bermimpi

Seni Bermimpi

Hari ini selayaknya sama dengan hari Jumat lainnya. Namun hari ini sedikit berbeda: gue berencana mengunjungi sebuah SMA yang lokasinya hanya 300 meter dari Pondok Indah Mall. Sebuah SMA swasta yang baru berdiri bulan Juli 2013 dan berjumlah murid hanya 7 orang. Hah...?! Cuma tujuh…? Tapi ini benar beda...

Iya. Ini adalah sekolah yang mengkhususkan diri untuk siswa usia SMA yang lebih berminat ke kreatifitas seni alih-alih kepada pelajaran kurikulum SMA pada umumnya. Kemendiknas pun sudah memberikan lampu hijau, bahwa SMA swasta ini setara dengan SMA negeri umum jurusan IPS. Walaupun demikian, bisa jadi loe akan beranggapan bahwa lulusan SMA bertema "School of Art" seperti ini cuma akan memiliki masa depan "PAHA MULUS" -- tanPA HArapan MUridnya LUSuh -- hihihi….

Well, gak juga. Bagi loe yang pernah membaca buku biografi mendiang Steve Jobs (1955-2011) -- pendiri perusahaan Apple Inc., dan terakhir sebagai CEO sebelum dia mengundurkan diri karena penyakit kanker pankreas yang merengut nyawanya -- loe pasti setuju bahwa kekayaan Jobs terbesar adalah datang dari perusahaan Apple tersebut. Benar, kan? Salah!

Ternyata Jobs mendapatkan penghasilan terbesarnya justru dari saham perusahaan lain yang dia dirikan tahun 1986, yaitu Pixar Animation Studios. Sebuah perusahaan kreatif pembuat seni film animasi apik nan menggugah, seperti Toy Story (1995), A Bug's Life(1998), Toy Story 2 (1999), Monster Inc. (2001), Finding Nemo (2003*), The Incredibles(2004*), Cars (2006), Ratatouille (2007*), WALL-E (2008*), Up (2009*), Toy Story 3 (2010*),Cars 2 (2011), Brave (2012), dan terakhir Monster University (2013). Semua yang bertanda bintang di belakang tahun pembuatannya adalah film peraih "Academy Award for Best Animated Feature", sebuah kategori penghargaan bergengsi piala Oscar yang baru diperkenalkan tahun 2001.

Sampai Juli 2013, penghasilan total Pixar yang tercatat dari film-filmnya di atas, telah mencapai USD8.3 Milyar atau setara dengan Rp.93,5 Triliyun,-! Sebagai satu-satunya pemilik saham tunggal terbesar dengan jumlah saham 7%, bisa dibayangkan berapa besar kekayaan Steve Jobs di Pixar yang diwariskan kepada keluarganya! Wuihhh… penghasilan yang menggiurkan untuk sebuah kerja di bidang kreatifitas seni.

Kembali ke SMA di atas. Sekolah yang menamakan diri "Erudio School of Art" (ESOA) ini didirikan oleh Monika Irayati atau biasa dipanggil Bu Ira. Selain dari pengalaman pribadi, idenya juga berawal dari banyak keluhan ibu-ibu yang anaknya ditenggarai kurang fokus ketika bersekolah di sekolah umum. Anak-anak tersebut sejatinya tidak bodoh. Mereka hanya merasa kurang cocok pada kurikulum sekolah umum. Salah satu dari mereka pernah curhat ke Ibu Ira lewat Twitpic seperti ini:

"…aku tau gambarku bagus kalo aku ada di lingkungan sekolah umum… tapi aku engga tau sebenernya posisi aku ada di mana di antara orang2 yg jago gambar… aku udah tau persis aku mau jadi Animator yang bekerja di Pixar… aku bingung Kak… aku harus gimana… tolong aku Kak… aku seharusnya ada di sekolah Kakak…"

Sekolah ESOA memang tidak menjanjikan siswa lulusannya pasti bisa bekerja di Pixar dan akan dapat gaji tinggi nantinya. Namun sekolah ini benar-benar serius meramu kurikulum tambahan yang fokus ke pengembangan bakat seni pada anak-anak usia 16-18 tahun.

Sekolah ini bekerjasama dengan Edexcel -- lembaga sertifikasi pendidikan dari perusahaan Pearson yang berbasis di UK -- agar siswanya bisa mendapatkan Sertifikasi A-Level bidang "Art and Design". Secara rutin assessment team Edexcel akan datang ke ESOA untuk melakukan Ujian Kelulusan yang berupa Final Project. Iya, siswa ESOA nantinya akan memiliki 2 ijazah: dari Kemendiknas, dan dari Edexcel.

Hal di atas sebenarnya yang bikin gue penasaran tentang sekolah ini. Dan pagi ini gue datang untuk melihat, memahami, dan meresapi. Ternyata yang gue dapat adalah lebih dari itu: beberapa siswa ternyata berasal dari sekolah-sekolah favorit di Jakarta -- yang tentu memiliki nila akademik di atas rata-rata -- namun sudah berani mengambil keputusan sendiri bahwa pilihan mereka bersekolah di ESOA adalah ibarat panggilan jiwa. Gue juga salut kepada orangtua mereka, yang ikhlas melepas anaknya bukan ke sekolah umum biasa, yang mungkin lebih menjanjikan jenjang karir.

Para siswa ini memahami bakat sendiri, dan mereka juga sudah memiliki dreams sendiri. Sekolah ESOA hanya memfasilitasi mereka agar dalam 3 tahun ke depan, bakat mereka lebih terasah, terspesialisasi, dan terprogram. Karena metode pelajaran di ESOA adalah berbasis proyek, maka penilain pada "proses pekerjaan" proyek akan memiliki bobot lebih tinggi dibanding hasil proyek itu sendiri. ESOA juga akan selalu mengingatkan tentangdreams mereka, apabila pada satu saat semangat mereka turun ke titik nadir terendah.

Rasa penasaran gue terhadap para siswa sekolah ini, awalnya coba gue tebus dengan minta izin Bu Ira 10 menit untuk berbicara di depan kelas, setalah hampir 1 jam gue cuma menjadi obyek yang diabaikan semua yang hadir di kelas, dengan hanya duduk manis melakukan observasi.

Hanya 2 parameter sebenarnya yang bikin gue penasaran: apa saja seh bakat mereka masing-masing, sepenasarannya gue, apa saja seh dreams mereka. Dan ini semakin menarik:

Mulai dengan M. Qais, satu-satunya laki-laki di kelas. Dia mengaku bahwa bakatnya ada di menggambar. Dreams nya ingin menerbitkan serial komik yang menjadi terkenal, sekelas komik superhero sekarang. Hmm… wajar sekali karena sepanjang gue observasi di kelas, dia selalu membagi fokusnya dengan mendengarkan Bu Ira mengajar, sambil menggores-gores sketsa komik di atas kertas.

Ada Age, cewek mungil yang juga mengaku berbakat di gambar. Dia bermimpi menjadi "famous around the world" sebagai seorang illustrator. Hebatnya, Age sudah menempuh satu tahun penuh di kelas X (sepuluh) sebuah SMA Islam swasta terkenal di Jakarta. Dia ternyata tidak nyaman kemudian lebih memilih mengulang lagi satu tahun di sekolah ESOA untuk mengejar passion-nya.

Next, Naya. Dreams cewe ini menjadi fashion designer terkenal, karena bakat dia adalah menggambar fashion. Gue sarankan, mulai sekarang Naya sudah merancang logo untuklabel fashion dia sendiri. Kemudian ditempel di tempat di mana dia sering melihatnya, agar dia memiliki passion dan selalu fokus terhadap dreams dia.

Ada juga Aya, cewe yang berbakat menggambar, bahkan sekarang sudah sebagaifreelance illustrator di sebuah majalah anak-anak. Dia bermimpi menjadi famous painteryang lukisannya menjadi koleksi museum-museum lukisan terkenal di luar negeri, sejajar dengan lukisan Monalisa.

Perkenalkan Putri, yang pernah menjadi Ketua OSIS semasa SMP. Dia mengaku berbakat menggambar, seorang pemikir, dan tertarik pada aktivitas riset. Dreams dia cukup menggetarkan: menjadi sutradara atau penulis skenario film, dan bisa memenangkan piala Oscar dari film buatannya. Hmm… "And the winner is…"

Finally ada Fathia, atau minta dipanggil Emma. Cewe yang sebelumnya sekolah di SMP favorit di Jakarta ini merasa tidak nyaman di sekolahnya, sehingga satu tahun terakhir harus home schooling sebelum melanjutkan masuk sekolah ESOA. Dia mengaku berbakat di gambar dan disain produk. Namun dia menolak keras kalau dipanggil "seniman." Yang lebih heboh dari anak ini: dreams Emma adalah ingin bekerja di Apple Inc., mendisain produk iPhone Apple yang bisa mengambang di udara atau anti-gravitation, dan terakhir… mengambil alih perusahaan Apple agar menjadi miliknya. Wow..!

Sebenarnya sah-sah aja setiap orang punya dreams yang aneh bin nyeleneh. Jangan takut karena tidak akan terkena pasal KUHP, atau ketangkap tangan KPK, atau juga dianggap teroris oleh Densus 88. Gak masalah kalau loe punya dreams seperti ini: "Muda foya-foya, Tua kaya-raya, mati masuk Surga…" hihihi… Karena untuk masuk surga diantaranya harus memiliki harta bukan hasil korupsi, juga rajin sedekah, dan tidak lupa bayar zakat. Berfoya-foya di waktu muda juga sah-sah aja selama bukan bermaksiat, atau mengkonsumsi mirasdan narkoba.

Yang awalnya gue cuma ingin 10 menit di depan kelas, akhirnya bertambah menjadi 30 menit. Gue sangat senang berada di tengah-tengah aura generasi muda yang berbakat dan memiliki dreams untuk berhasil menjadi terkenal. Tapi gue ingatkan ke mereka, menjadi terkenal sejatinya adalah hasil dari passion seseorang dalam mengasah bakatnya.

Gue ingatkan lagi ke mereka: siapa yang tidak tahu Thomas Alfa Edison yang terkenal sebagai "penemu lampu bohlam pijar" sepanjang sejarah? Dan perlu diketahui, Edison berhasil menemukan lampu tersebut, setelah 1.000 x gagal dalam bereksperimen. Dalam hal ini, passion adalah kuncinya.

Gue jadi ingat apa yang pernah diucapkan mendiang Steve Jobs pada sebuah kesempatan,
"Because the people who are crazy enough to think they can change the world, are the ones who do."
Memang, hari Jumat selalu penuh dengan barokah. Seperti hari ini.

 








Education Lainnya

Get the latest update of Erudio School of Art by subscribing here