Education
 

EMPATI PADA ANAK, MASIHKAH ADA?

EMPATI PADA ANAK, MASIHKAH ADA?

Pagi ini saya buka kompas.com bagian edukasi.
“Ingat.. Hasil SNMPTN Diumumkan 26 April 2017”
“19 Staf Kementrian Keuangan Raih Beasiswa ke Belanda”
“Jumlah Peneliti Indonesia di Urutan Buncit, Apa Tantangannya?”
“Pendaftaran SBMPTN Sudah Dibuka”
“Hasil UN Tetap Syarat Utama Ikut SNMPTN”
 
Saya scroll terus ke bawah, akhirnya saya menemukan SATU artikel yang sesuai dengan yang saya cari; “Mengejek”. Artikel ini membahas bagaimana “beracun”nya ejekan bagi tumbuh kembang anak dan bahwa ejekan tidak selayaknya dijadikan bahan bercanda.
Sebenarnya artikel apa yang saya cari?
Artikel tentang empati pada anak.
 
Bulan-bulan ini memang musim ujian, itu sebabnya tiga dari lima judul artikel di atas membahas tentang pengumuman dan syarat ujian. Tapi menurut saya, justru karena ini musim ujian media massa selayaknya mengulas apa yang bisa dilakukan orang tua untuk mengurangi stres anak dalam menghadapinya. Tapi nyatanya, tidak ada satupun.
Sejatinya apa yang bisa kita lakukan ketika putra/putri kita sedang mempersiapkan ujian atau menunggu hasil ujian? Memotivasi memang perlu, tapi yang lebih penting sebenarnya adalah berempati. Cukupkah dengan, “Udah kak tenang aja..”? Sayangnya tidak. Meski tidak mungkin bagi kita untuk merasakan yang mereka rasakan, tapi alangkah baiknya jika kita ada untuk  mereka. Dampingi mereka belajar, temani mereka menunggu pengumuman, ajak mereka berdoa atau meditasi untuk menenangkan pikiran, bantu mereka mempertimbangkan pilihan yang ada, dan yang terpenting; dukung pilihan mereka.
Ujian usai, datang pemantik stres yang lain, yaitu memutuskan lanjut studi. Lazimnya orang tua fokus bertanya tentang bidang ilmu ataupun institusi yang ingin dituju oleh putra/putrinya. Salahkah? Tentu tidak, namun sebenarnya ada hal lain yang tidak kalah penting untuk dibahas dengan putra/putri sebelum membahas bidang ilmu ataupun institusi. Untuk permulaan, kita bisa bertanya kepada mereka, bagaimana mereka melihat diri mereka lima tahun dari sekarang. Apa yang ingin mereka lakukan, untuk siapa, kenapa..
Ketika semua pertanyaan itu perlahan terjawab, bersama putra/putri kita bisa melihat pilihan yang tersedia; Magang? Bekerja? Sekolah? Kuliah? Mengapa pilihan penting untuk dibahas? Mengapa tidak membahas bidang studi dan institusi?
Menurut Howard Gardner (1993), gaya belajar sesungguhnya beragam;

  1. auditori, pembelajar menyerap informasi melalui mendengarkan
  2. visual, pembelajar menyerap informasi melalui melihat gambar
  3. kinestetik, pembelajar menyerap informasi melalui pengalaman fisik atau praktek
Untuk seseorang yang kinestetik, misalnya, pilihan magang atau bekerja layak dipertimbangkan karena justru dengan terjun langsung ke lapangan ia belajar lebih efektif. Jadi untuk pembelajar tipe ini, masa vakum bisa jadi sangat baik untuk perluasan wawasan dan pendewasaan mereka.
Sekolah memang tempat untuk belajar, tapi bukan satu-satunya.
Salam sayang saya untuk putra/putri Anda.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Author :  Diajeng Indah Angelia Basuningtyas








Education Lainnya

Dapatkan informasi terbaru dari ERUDIO School of Art dengan Subcribe disini