ESoA News
 

Merdeka Lewat Pendidikan Alternatif

Merdeka Lewat Pendidikan Alternatif
Bagaimana merdeka di dalam pendidikan alternatif?

Sore itu, siswa tahun pertama Erudio School of Arts merayakan inisiatif mereka untuk mengadakan agenda nonton bersama di selasar sekolah. Ruang selasar yang sepanjang sisinya memajang karya para murid disulap sebagai ruang bioskop dadakan. Ruangan jadi gelap, layar dipasang di tengah ruang. Sesekali, beberapa siswa keluar-masuk ruangan. Tak ada seragam melekat di tubuh mereka. Sore itu, siswa bebas mengenakan kostum dan riasan sesuka hatinya. Agenda nonton bersama itu sepekan sebelumnya diusukan para murid lewat sebuah pertemuan rutin warga sekolah yang dinamakan Pertemuan Agung.”Jumat lalu, siswa tahun pertama memaparkan alasan kenapa harus nonton bareng, akhirnya disepakati. Semua anak di sini punya hak yang sama, untuk menyuarakan pendapatnya,” ujar Monika Irayati Irsan, pendiri Erudio School of Art, saat ditemuiTempodi kawasan Lebak Bulus, Selasa lalu. Secara umum, kondisi belajar mengajar di Erudio atau EsoA kurang lebih serupa dengan penentuan agenda nonton bareng tersebut. Guru berfungsi sebagai fasilitator puluhan siswa yang mengeksplorasi sendiri minat dan kebutuhan belajar mereka. Proses belajar yang diterapak di EsoA menggunakan metode self learning, yang siswa-siswanya nyaris tak diintervensi dalam ihwal kegiatan belajar. Sekolah yang terletak di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, ini dikhususkan bagi siswa yang memang punya minat terhadap seni visual. “Melalui pendidikan seni visual kami ingin membantu anak menemukan siapa dirinya,” ujar Ira. Ira bercerita bagaimana setiap harinya kegiatan di sekolah sangat dinamis. Siswa bisa berkeliaran di mana saja. Mengisi ruang untuk belajar yang dianggap bisa membuat diri lebih produktif. Mereka ada di atas pohon, duduk di lantai, atau berjalan sembari mendengarkanmusik dengan earphone.namun, ada juga yang bisa duduk tenang di dalam ruang kelas. Anak dibebaskan menemukan pola nyamannya saat belajar. Anak pun diberik keleluasaan untuk menentukan sendiri karya yang ingin dibuat, sementara sekolah hanya menetapkan tenggat. Bahkan, pembagian waktu buat anak melakukan riset dan membuat karya ditetapkan oleh setiap anak. Belum lagi soal aturan di sekolah. Anak-anaklah yang membuat aturan sendiri. Mereka yang menentukan ingin menggunakan seragam seperti apa, ingin mematuhi tata tertib yang bagaiman. Semuanya dibicarakan dalam Pertemuan Agung, tempat di mana posisi guru dan murid EsoA setara. Tapi jangan salah, berkegiatan demikian bebas bukan berarti mereka tak mempelajari mata pelajaran akademik tertentu. Para siswa di EsoA masih mendapatkan berbagai materi akademik seperti matematika, bahasa, ilmu sosial, dan ragam pelajaran seni yang menjadi bekal bagi mereka untuk membuat sebuah proyek seni di tengah semester dan akhir tahun. “Mereka akhirnya membuat karya dari berbagai ilmu tadi, karena seni tak bisa berdiri sendiri, dan karya harus punya konten,” tutur Ira. Metode pembelajaran yang diterapkan di EsoA memang banyak menekankan pada proyek seni dan relevansinya terhadap diri serta lingkungan. Penerapan metode tersebut bertolak belakang dengan polapendidikan pada umumnya yang kerap menjauhkan siswa dari masyarakat. Siswa kerap difokuskan untuk belajar dan dijauhkan dari isu di sekitarnya. “Kita sering mendengar ucapan, kamu belajar saja yang rajin. Padahal tujuan pendidikan seharusnya menyiapkan anak produktif, dan tahu apa yang bisa dia lakukan kelak di masyarakat,” dia membeberkan. Adapun di EsoA, sejak awal siswa dikondisikan untuk melihat isu apa saja yang beredar di sekitar mereka. Isu yang mereka tangkap selanjutnya direspons lewat sebuah karya seni. Pada tahun kedua, pelajaran yang diperoleh siswa tak jauh berbeda. Segala yang dipelajari siswa didasari apa yang relevan dengan karya seni dari hasilmereka mengeksplorasi kondisi sosial di sekitar. Ada yang khusus untuk siswa tahun ketiga atau tahun akhir. Dua hari dalam sepekan mereka mulai dibiasakan mengerjakan soal-soal guna mengahadapi ujian nasional dan persiapan tes masuk perguruan tinggi. Hal ini sebenarnya cukup menyedihkan bagi Ira. Sebabnya, tatkala menggagas lahirnya sekolah alternatif EsoA, ia bercita-cia mendirikan sebuahsekolah yang lebih menekankan ilmu kehidupan kepada anak didik. Sekolah itu membiasakan anak didik terus gelisah terhadap banyak kondisi serta bisa menjadi manusia yang berani mengambil keputusan untuk hidup mereka. “Kami menekankan pengembangan siswa sebagai manusia. Tak dimunkiri terasa panik saat mendampingi anak di tahun ketiga karena ada tuntutan meluluskan mereka,” ujar Ira. Sejauh ini, ESoA berhasil menuntun anak didiknya yang biasa belajar dengan metode pembelajaran non-kurikulum nasional untuk bisa mengikuti ujian penyetaraan dan ikut serta dalam tes masuk universitas negeri. Beberapadiantaranya ini tercatat menjadi mahasiswa di Universitas Gadjah Mada atau di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung.

Source : Tempo, 5 November 2016




ESoA News Lainnya

Get the latest update of Erudio School of Art by subscribing here